Prologue-Preamble
Cinta
......
Satu kata yang mengahdirkan berbagai macam perasaan yang entah mengapa selalu membuat senang sekaligus tersakiti.
Satu kata yang mengahdirkan berbagai macam perasaan yang entah mengapa selalu membuat senang sekaligus tersakiti.
Di
saat hati mulai jengah dengan perasaan yang selalu terluka akan perasaan yang
tak pernah di anggap. Kata “Cinta” sekali lagi muncul dan membuat semangat
untuk kembali memperjuangkan perasaan yang terluka agar bisa bersatu...
Seakan
menerima tapi tak bisa di sentuh...
Semakin
lama, semakin membuatnya terluka dengan kenangan dan kepingan masa lalu.
Haruskah bertahan atau pergi ?
#1
Ivy
Azalea E (Zee)
Lelah....
Itu kata yang tergiang di pikirannya Ivy Azelea. Seorang
karyawan di perusahaan WO ternama di Jakarta. Saat ini Zea (begitulah ia
biasa di panggil, karna entah apa alasannya ia tak ingin di panggil dengan nama
depannya.). Sedang
berkutat dengan kertas kertas menyebalkan yang tak ada habisnya. Ia menjadi desainer acara di perusahaannya.
"Hei nona disainer sepertinya kertas-kertas mu itu
takkan pernah habis yaa" ledek seorang wanita di depan mejanya.
"Huh?? Apa kata lo Al? Aish.. Dari pada ngurusin gue,
mending lo urus sana pangeran
berkuda putih lo itu" Zea
membalas ucapan Wanita yang di panggil Aline itu.
"Hahah pangeran gue udah Game
Over " Zea ternganga
mendengar perkataan Aline yang sebenarnya sahabatnya, meski ia sering adu mulut
dengan Aline.
"Maksud lo game
Over apaan? " tanya Zea
dan melupakan perkerjaannya. Karna ia lebih tertarik mendegar kisah Aline
daripada kertas putih itu.
"Ya game
Over Zea. Berakhir. "
Jawab Aline penuh penekanan dan duduk di depan meja Zea sambil memainkan
miniatur boneka di meja Zea.
" hah?? Lo udah nyerah ngejar cinta dia gitu? Ckkk... nggak biasanya
gue ngelihat lo nyerah, biasanya lo ngejar dia sampai bertekuk lutut sama
lo" Ucapan Zea malah membuat Aline cemberut.
"Bukan itu masalahnya Zea. Lo harus tau kalau ternyata
dia... " Aline menggantungkan perkataannya yang membuat Zea makin penasaran.
"Ternyata dia udah punya pacar gitu?" Ucapan Zea di
jawab gelengan kepala oleh Zea.
"Lalu apa??" Zea mendesak Aline
"Dia Gay Zea!! Gay!! Lo puas!!? " teriak Aline
dengan kencangnya . Zea beruntung karna ruangannya kedap suara sehingga tak
mungkin kederangan sampai di luar.
"Whaat!! Lo
serius? Atau lo cuma mengada-ngada??" selidik Zea karna tak mungkin kan
jika Aline berkata serius karna yang ia lihat dari pria itu sepertinya ia
normal tapi.. Not all human
perfect right?. Zea
menggelengkan kepalanya untuk menghapus pikiran itu.
"Gue serius Zea. Waktu itu gue sempat ngikutin dia dan lo
tahu apa yang gue lihat? Dia bermesraan dengan sesama jenisnya.. Lo bayangkan
betapa hancurnya gue. Bahkan gue nggak nyangka proa yang luarnya perfect ternyata seorang Gay Zea." Aline menahan tangisnya
agar tak terlihat lemah meski didepan sahabatnya pun.
"Hhh... Sabar Al. Gue yakin lo pasti bisa mendapatkan yang
lainnya dan kali ini Normal, atau lo mau gue ikutin biro jodoh
gitu?" Canda Zea yang membuat Aline tersenyum.
"Hahah seharusnya lo yang ikut biro jodoh, gak sadar apa lo
itu jomblo nge-nes " gelak tawa Aline membuat Zea Kesal
dan melemparkan pensil yang sedang ia pegang pada Aline.
Tak!!
"Aduh....!!
Lo sadis yah kalau sedang marah atau kesal gini. Untung kepala gue kagak gegar
otak gara-gara lo" Aline mengusap kepalanya yang sedikit sakit karna
mengenai tepat ujung pensil yang runcing.
"Ah.. Lebay lo mah" Zea memutar bola matanya mendengar
ucapan Aline.
"Saya Mempekerjakan kalian bukan untuk bergosip
nona-nona"
"Deg.......!!"
Jantung mereka seakan copot mendengar teguran dari Bu Tias.
Karna ia tak melihat Bu Tias masuk ruangannya.
Aline dan Zea langsung berdiri memberi hormat pada Buk Tias.
"Ma.. Maaf Bu. Kami nggak sengaja" Jawab Zea dengan
nada pelan dan hampir tak terdengar.
"Tak sengaja? Hampir 1 jam dan kalian bilang tak
sengaja?" sindir Bu Tias pada Aline dan Zea.
"Sekarang cepat selesaikan kerjaan kalian!!" perintah
Bu Tias langsung membuat Aline ngacir pergi ke mejanya yang membuat Zea
menggerutu karna Aline meninggalkannya sendiri di ruangannya ini.
"Dan untuk kamu Zea. Jangan ulangi lagi. Saya tak ingin
kamu bermalas- malas saat bekerja meski kamu menempati posisi yang lumayan di
kantor ini." Nasihat Bu Tias di jawab anggukan kepala oleh Zea dan ia
kembali melanjutkan pekerjaannya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxx --Mommy!!
--xxxxxxxxxxxxxxxxx
"Daddyyy!! " dua
bocah berumur 5 Tahun langsung berhamburan berlari dan tenggelam dalam pelukan
ayahnya.
"Heii my son. How are you today?" tanya Kevin
pada Anak kembarnya.
"Humm.. Amaizing!!
Nanny took us to the playground dad" Jawab Aaron saudara Kembar Abyan
dan saat ini juga ada di gendongan Kevin.
"Really?" tanya Kevin pura-pura terkejut dengan
yang diberitahu oleh Aaron.
"Yess Daddy.!! You're very busy. We Can't play
together. " Raut wajah
Abyan langsung berubah sedih setelah mengatakan itu.
"Oh my sons . i'm reallly sorry. Daddy promise with both
of you. tomorrow, We will play together. " janji Kevin pada kedua
anaknya.
"Woo.. You
must pinky promise with us daddy" tantang Aby saat ia dan Aaron di
turunkan dari gendongan Kevin.
"Pinky Promise?? "
Kevin menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya kepada kepada kedua putranya.
"Yes Dad!!" Aby
dan Aaron menunjukkan jari kelingking mereka dan Kevin langsung mengaitkannya
untuk membuat janji pada anaknya jika ia akan meluangkan waktunya bersama
dengan kedua putra kesayangannya.
"It's time to take a bath my sons " Ajak
Kevin pada kedua anaknya dan membawa mereka untuk mandi.
xxxxxxxxxxxxxx---Mommy!!---xxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Ini pak beberapa rancangan tema pesta pernikahan dari desainer saya. Silahkan bapak pilih tema
mana yang bapak inginkan" Ucap Bu Tias pada Client nya.
"Hmm.. Bagaimana sayang? Kamu mau pilih yang mana?"
tanya Pria berwajah maskulin dan tampan pada tunangannya yang anggun dan
mempesona.
"Yang ini saja Mas. Sederhana tapi elegan." pilih
wanita cantik itu.
"Waah.. Pilihan bagus bapak dan ibu" Sanjung Bu Tias
dengan tulus.
"Ya saya memilih yang ini." Ucap pria itu memilih
rancangan dengan tema garden
party dan indoor untuk dekorasi pesta pernikahan mereka dan
resepsinya.
"Baiklah saya akan mengaturnya. Atas nama siapa? "
tanya Bu Tias.
"Jonathan dan Elisa" ucap pria yang bernama Nathan
itu.
xxxxxxxxxxxxxx--Mommy!!----xxxxxxxxxxxxxxxx
"Zea... Lunch yuk?" Ajak Aline saat istirahat
kerja dan masuk ke ruangan Zea.
"Hmm?? Lo duluan aja. Kerjaan gue masih banyak nih"
balas Zea dan masih sibuk dengan rancangannya.
Sreekk.!!
"Udah
deh Zea, Jangan paksain diri lo. Lagian kan lo udah nyelesaiin beberapa
dan itupun udah lo serahin ke Bu Tias" Ucap Aline saat ia merebut kertas
kerja Zea.
"Iya tapi ada beberapa lagi Al" bantah Zea.
"Ngak aada tapi-tapian Zea. Kita harus makan sekarang,
Keysha udah nunggu di cafe biasa." paksa Aline dan menarik
Zea keluar dari ruangannya.
"iyaa aduh.!!. Pelan-pelan Al." Ucap Zea dan mengikuti
Aline dengan jalan terseok-seok karna tarikan Aline.
"Iya-iya ... Maafin gue Zea. Habisnya lo itu tadi bandel
sih, ya gue tarik aja langsung. " Aline melepaskan tarikannya dan kembali
berjalan bersama menuju cafe dengan Zea di sampingnya.
TBC